KOMPAS 20 Maret 1984. Ismail Husin sudah tujuh belas tahun menjadi guru satu-satunya di daerah terpencil Keunekai We 20 km dari Sabang di Pulau We. Dia pula merangkap menjadi Kepala Sekolah dan pesuruh. Ia mengurus 123 murid SD dengan enam lokal sendirian.
1000 Guru merupakan sebuah komunitas yang berawal dari potret pendidikan di pedalaman. Dibentuk pada 2012 oleh Jemi Ngadiono, 1000 Guru adalah komunitas nonformal beranggotakan pemuda-pemuda yang peduli pendidikan anak-anak di wilayah terpencil Indonesia. Diawali dari sebuah akun twitter @1000_guru melalui akun tersebut Jemi
Potretrendahnya kualitas pendidikan di daerah pedalaman atau terpencil bukan menjadi rahasia lagi jika para anak yang tinggal di daerah pedalaman begitu sulit mendapat kehidupan yang dibilang layak seperti anak pada umumnya yang bertinggal di kota. Anak pedalaman kesulitan untuk mendapatkan air bersih, menempuh pendidikan yang sesuai dengan
Jakarta Potongan hangus sampah luar angkasa yang ditemukan di padang rumput oleh seorang peternak domba Australia. Benda tersebut oleh pihak berwenang dikonfirmasi menjadi bagian dari salah satu misi SpaceX Elon Musk. Puing-puing yang tampak halus, diyakini telah jatuh ke Bumi pada 9 Juli, ditemukan minggu lalu di Dalgety - daerah terpencil di dekat Pegunungan Snowy Australia, sekitar lima
potretpendidikan di daerah terpencil kondisi pendidikan indonesiakondisi pendidikan indonesia,potret buram pendidikan indonesia,fakta buruk pendidikan indon
Pengawasmerupakan salah satu ujung tombak peningkatan mutu pendidikan..Tiap-tiap pengawas memiliki sekolah atau guru binaan. Rata-rata antara 10 seko Potret Perjuangan Pengawas di Daerah Terpencil Halaman 1 - Kompasiana.com
0 Potret Kesehatan dan Pendidikan di Daerah Pegunungan Seram Utara, Maluku Tengah, Maluku. Foto : Istimewa. TITASTORY.ID - Memiliki topografi yang bervariasi seperti dataran tinggi yang masih dipadati hutan hujan tropis, dataran rendah berawan, padang rumput, lembah, sungai dan laut membuat Pulau Seram, salah satu pulau terbesar di wilayah
Kondisidesa terpencil, memaksa setiap anak yang ingin mengenyam pendidikan dasar harus berjalan kaki lewati bukit dan hutan agar bisa sampai ke sekolah. hal tersebut mengakibatnya banyak anak usia sekolah dasar yang putus sekolah atau malah tidak bersekolah sama sekali.
Pendidikandi Daerah Kepulauan Terpencil: Potret Siswa, Guru, dan Sumber Belajar
Pelayananpendidikan terutama di daerah-daerah terpencil seperti di daerah luar Jawa pada kenyataannya masih minim padahal dana APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) yang dialokasikan khusus untuk pendidikan sudah 20%.
jyvwL. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Bicara pendidikan tiada hentinya menuai perbalahan. Pro dan kontra ditemui diberbagai kalangan. Perdebatan selalu muncul di beranda media sosial apalagi dimasa pandemi menyoal belajar mengajar metode daring atau pembelajaran jarak jauh menuai perbantahan panjang. Keadaan sekarang dilema bagai makan buah sisi kita menginginkan pendidikan tetap berjalan dengan cara apapun itu dan daring di nilai jadi solusinya namun disisi lain metode daring rupanya tidak berjalan mulus bagi mereka yang tingkat ekonominya rendah, tidak punya gaway, belum bisa mengoperasikan smartphone secara maksimal atau kendala di jaringan bagi mereka yang bertempat tinggal di daerah terpencil. Sehingga kendala ini membuat sebagian mereka kewalahan dalam mengikutinya belajar secara online. Misalnya saja keadaan di desa Sihalo-halo, Kecamatan Dolok Sigompulon, Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara yang masih minim dari jaringan internet membuat beberapa siswa terpaksa tiap harinya pergi kebukit agar bisa ikut belajar secara hari belakangan perhatian saya tertuju pada mereka yang tiap pagi berangkat dengan membawa beberapa perlengkapan sekolah dan tikar untuk alas belajar atau sebagian mereka hanya beralaskan kaki dan tanah. Mereka belajar ditempat yang tidak layak berpanas-panasan dan terkadang dilanda hujan sehingga terpaksa membuat tempat berteduh karena jam belajar sedang berlangsung. Metode belajar dilakukan Via-WA, guru memberikan soal melalui grup dan murid mengerjakan jawaban dibuku tulis lalu hasilnya di kirim dalam bentuk foto. Melihat keadaan yang dirasakan beberapa siswa terkhusus desa Sihalo-halo yang minim dari jaringan internet sangat prihatin. Revolusi Industri yang gencar dibicarakan pemerintah ternyata masih sebatas ilusi, padahal jauh sebelum adanya pandemi kampanye revolusi industri sudah menjadi kajian diskusi tapi masih nihil dalam aksi hal ini ditandai dengan tidak merata nya jaringan internet dipenjuru negeri. Disamping jaringan internet yang belum memadai terdengar keluh kesah dari beberapa orang tua kewalahan dalam memenuhi fasilitas semisal gaway yang mesti dimiliki oleh para siswa namun tidak banyak dari mereka yang mampu memenuhinya sehingga tidak jarang para siswa tidak ikut serta dalam belajar. Keadaan ini dirasakan oleh beberapa orang tua didesa bahkan mungkin di kota. Atau sebagian dari mereka hanya menggunakan satu gaway untuk beberapa orang anaknya secara bergantian karena tingkat ekonomi yang rendah tidak mendukung mereka punya gaway ditiap individu siswa sehingga terkadang diantara mereka terkendala ikut belajar daring karena memiliki jadwal yang sama ketika pelajaran sedang seperti inilah contoh kecil fotret pendidikan online di masa pandemi bagi desa terpencil terlihat jelas belum sanggupnya negara memberi fasilitas belajar daring menggunakan technology informasi dan tingkat ekonomi yang masih jauh dari kata mencukupi. Apa solusi selanjutnya? kemarin menteri Nadiem persilahkan dana BOS dipakai beli kuota untuk belajar daring, mungkin ini bisa meringankan biaya para orang tua. Akankah jaringan internet segera merata dipenjuru negeri?Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang, ada di SINI. Lihat Inovasi Selengkapnya
Selain ke perekonomian, dampak pandemi COVID-19 juga terasa ke dunia pendidikan. Sejak adanya pandemi ini, kebijakan-kebijakan baru pun mulai diterapkan di dunia pendidikan. Seperti belajar di rumah salah satunya. Para guru pun harus rela menjemput bola demi tercapainya pemerataan pendidikan di desa terpencil. Penerapan kebijakan belajar melalui sistem daring mungkin tak menjadi masalah di area perkotaan karena dukungan infrastruktur telekomunikasinya seperti koneksi internet yang baik. Akan tetapi beda halnya dengan nasib para pelajar dan guru di pedesaan yang jauh dari akses dan kemudahan internet. Ya, itulah yang dialami sejumlah siswa SMP Negeri 4 Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah karena tidak semua siswa dapat menikmati akses internet. Keterbatasan piranti seperti telepon genggam, atau bahkan jaringan internet yang semulus perkotaan menjadi kendala. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat juang untuk memajukan dunia pendidikan. Seperti yang dilakukan Mulud Sugito, Kepala Sekolah SMP Negeri 4 Bawang. Sekolah yang terletak di Dusun Sigemplong, Desa Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang ini terletak di wilayah paling selatan Kabupaten Batang yang bersebelahan dengan kawasan wisata Dieng. Namun apa daya, tidak semua tenaga pendidik menguasai sistem daring ini. Siswa pun juga ada yang tidak memiliki telepon genggam atau pun jaringan internet lancar. Akhirnya Sugito bersama 11 guru Wiyata Bhakti lainnya sepakat untuk melakukan 'jemput bola' dengan mengantar tugas sekolah secara langsung ke rumah siswa. Beginilah salah satu medan yang terekam oleh kamera pewarta foto dari Antara ini. Terjal dan berliku, ditempuh demi memenuhi kebutuhan pemerataan pendidikan bagi anak-anak di desa terpencil. Setiap Senin pagi, kepala sekolah dan guru membagi tugas untuk mengantar tugas sekolah ke rumah siswa. Total keseluruhan siswa kelas VII sampai IX mencapai 43. Namun untuk saat ini, yang masih aktif mengikuti kegiatan belajar mengajar KBM hanya kelas VII dan VIII yang berjumlah 35 siswa. Guru harus menyusun program belajar dan tugas yang bisa digunakan siswa saat belajar di rumah selama satu minggu. Kemudian pada hari Sabtu, guru mengambil kembali hasil pengerjaan siswa untuk dikoreksi. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberlakukan kebijakan belajar di rumah bagi pelajar hingga setingkat mahasiswa. Pembelajaran yang dikenal dengan sistem daring online mulai digeluti bagi semua siswa. Tapi bagi siswa di desa terpencil hal itu tak berlaku. Ini salah satunya. Meskipun demikian, para siswa ini tetap semangat untuk meraih cita-cita mereka dengan belajar yang tekun dan gigih. Mereka rela berjalan kaki dengan turun naik bukit sejauh sekitar satu kilometer hingga melewati aliran sungai di dasar bukit. Selain berjalan kaki, ada pula beberapa alternatif jalan lainnya. Namun jarak tempuh perjalanan harus dilalui berputar sejauh lebih kurang 20 kilometer. Para guru memilih untuk melalui jalan tercepat meski harus turun naik bukit guna mengantar materi pembelajaran ke rumah siswa. Semangat belajar dan kegigihan siswa di desa terpencil dalam menempuh pendidikan itu tidaklah mudah. Untuk itu, semangat yang tinggi perlu dihargai. Mereka dengan penuh semangat dan antusias menerima pelajaran dan tugas dari guru-guru mereka saat belajar di tengah pandemi ini. "Dari situasi pandemi ini, kami mengambil hikmah bahwa perjuangan anak didik kami dalam memperoleh pendidikan tidaklah mudah. Kami harus berjuang demi mereka agar dapat selalu belajar. Semoga pandemi COVID-19 ini segera sirna," ujar Mulud Sugito.
– Indonesia merupakan negara yang kaya akan ragam budaya dan adat istiadat. Namun, potret pemerataan pendidikan di Indonesia masih terlihat tidak merata, terutama bagi daerah-daerah terpencil yang masih memerlukan perhatian khusus dari pemerintah. Kondisi ini tentu saja mempengaruhi kualitas pendidikan di daerah tersebut. Bagaimana potret pemerataan pendidikan di daerah terpencil? Mari kita simak bersama-sama. Pendidikan di Daerah Terpencil Potret Pemerataan Pendidikan di IndonesiaPendahuluanDaerah Terpencil di IndonesiaTantangan dalam Pemerataan Pendidikan di Daerah TerpencilUpaya Pemerataan Pendidikan di Daerah TerpencilKesimpulan Pendahuluan Pendidikan merupakan hal yang penting bagi setiap individu di Indonesia. Namun, tidak semua daerah di Indonesia memiliki akses yang sama terhadap pendidikan. Daerah-daerah terpencil seringkali mengalami kesulitan dalam menyediakan layanan pendidikan yang memadai bagi masyarakatnya. Oleh karena itu, pemerataan pendidikan menjadi penting untuk memastikan bahwa setiap anak di Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Daerah Terpencil di Indonesia Daerah terpencil di Indonesia terutama terletak di wilayah timur Indonesia seperti Papua, Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara. Wilayah ini seringkali sulit dijangkau karena medan yang sulit dan infrastruktur yang kurang memadai. Kondisi ini membuat akses pendidikan menjadi sulit bagi masyarakat di daerah tersebut. Tantangan dalam Pemerataan Pendidikan di Daerah Terpencil Salah satu tantangan utama dalam pemerataan pendidikan di daerah terpencil adalah infrastruktur yang kurang memadai. Sekolah-sekolah di daerah terpencil seringkali memiliki fasilitas yang minim dan guru yang kurang berkualitas. Selain itu, akses transportasi yang sulit juga membuat anak-anak sulit untuk mengakses sekolah. Upaya Pemerataan Pendidikan di Daerah Terpencil Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki kondisi pendidikan di daerah terpencil. Salah satu upaya tersebut adalah program Pendidikan Anak Usia Dini PAUD yang bertujuan untuk memberikan pendidikan awal bagi anak-anak di daerah terpencil. Selain itu, pemerintah juga telah membangun sekolah-sekolah baru dan meningkatkan kualitas guru di daerah tersebut. Kesimpulan Pemerataan pendidikan di daerah terpencil merupakan hal yang penting untuk memastikan bahwa setiap anak di Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki kondisi pendidikan di daerah terpencil, namun masih banyak tantangan yang harus diatasi. Oleh karena itu, perlu adanya kerjasama dari semua pihak untuk memastikan bahwa pemerataan pendidikan di daerah terpencil dapat tercapai dengan baik. Dalam mengamati potret pemerataan pendidikan di Indonesia, tidak dapat dipungkiri bahwa masih terdapat kesenjangan yang cukup besar antara daerah perkotaan dan terpencil. Namun, upaya pemerintah dalam meningkatkan akses pendidikan di daerah terpencil sudah mulai dilakukan, seperti dengan membangun sekolah-sekolah baru dan memberikan bantuan kepada guru-guru di sana. Selain itu, peran masyarakat dalam mendukung pemerintah dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pendidikan di daerah terpencil juga sangat penting. Dengan terus berupaya dan bekerja sama, diharapkan bahwa pemerataan pendidikan di Indonesia dapat terwujud secara merata di seluruh wilayah, termasuk di daerah terpencil.